
Nabi Muhammad SAW merupakan satu-satunya pribadi di dunia yang kehidupannya sarat dengan teladan dan akhlak mulia yang sangat dibutuhkan manusia. Meskipun beliau hanya hidup selama 63 tahun, dan menjalankan tugas sebagai Nabi dan Rasul selama kurang lebih 23 tahun hingga wafat, beliau tetap mampu menunaikan amanah dakwah Islam dengan sempurna.
Totalitas Rasulullah Dalam Berbagi
dari Anas radliallahu ‘anhu: “Ada seorang laki-laki meminta seekor kambing kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara dua bukit. Kemudian tanpa ragu-ragu, Rasulullah pun memberikan kambingnya kepada orang itu. Lalu orang itu datang kepada kaumnya seraya berkata: “Hai, kaumku! Masuklah kalian semua ke dalam agama Islam kalian! Demi Allah, sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian tanpa takut miskin.” Maka Anas berkata: “Jika ada seseorang yang dahulu masuk Islam karena niat menginginkan harta dunia, tidaklah ia masuk Islam sehingga Islam itu sendiri lebih dicintainya dari pada dunia dan segala isinya.” (H.R. Muslim)
Rasulullah dikenal sebagai sosok yang dermawan, bahkan di saat harta bendanya terbatas. Dalam kisah ini, Nabi memberikan seekor kambing begitu saja, menjadikan penerima terkesan hingga dia berkata kepada kaumnya bahwa Muhammad memberi tanpa takut miskin. Pesan ini sangat kuat: Memberi tidak akan menyebabkan kemiskinan, justru mendatangkan keberkahan dan cinta dalam hati.
Akhlak Rasulullah dalam berbagi tercermin sangat indah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Kisah seorang laki-laki yang meminta seekor kambing kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara dua bukit menjadi bukti nyata keluasan hati beliau dalam memberi. Tanpa ragu dan tanpa hitung-hitungan, Rasulullah langsung memenuhi permintaan orang tersebut, menunjukkan betapa beliau tidak pernah khawatir kehilangan atau kekurangan, karena keyakinan penuh bahwa rezeki berasal dari Allah.
Dalam hadist lain, . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah berfirman kepadaku: ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.'” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di dalam Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya. Arsy-Nya di atas air, sedangkan di tangan-Nya yang lain maut, yang meluaskan rizki hamba-Nya atau menyempitkan.” (H.R. Shahih Muslim)
Rasulullah juga menegaskan dalam sabdanya, “Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.” Hadis ini mengajarkan bahwa dengan berinfak, Allah menjamin balasan serta pengganti yang lebih baik bagi siapa pun yang mau berbagi dengan ikhlas. Pemberian Allah tak pernah berkurang, meskipun mengalir siang dan malam sejak terciptanya langit dan bumi. Akhlak ini bukan sekedar menguatkan jiwa berderma, tapi juga menumbuhkan kepercayaan dalam hati bahwa Allah Maha Pemurah dan Maha Kaya.
Ketulusan Rasulullah dalam berbagi dan berinfak tidak sekadar berdampak duniawi. Banyak orang yang awalnya masuk Islam karena motif materi, akhirnya jatuh cinta pada ajaran Islam yang menekankan ketulusan, berbagi, dan keutamaan iman. Akhlak berbagi yang dicontohkan Nabi membawa perubahan spiritual: keikhlasan menjadi kunci keberkahan dan kecukupan sejati. Rasulullah membuktikan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan pernah menyebabkan kemiskinan, justru membuka pintu rezeki yang luas.
Keteladanan Rasulullah Pada Kehidupan Masa Kini
Akhlak berbagi ala Rasulullah bukan sekadar mengeluarkan harta, tapi juga membangun kepercayaan kepada Allah sebagai Maha Pemberi Rezeki yang tidak pernah berkurang. Pemberian dari Allah mengalir tiada henti, siang dan malam, memberikan pesan bahwa ketulusan dalam berbagi membawa keberkahan dan kecukupan abadi.
Keteladanan Rasulullah dalam berbagi dan berinfak sangat relevan di era modern. Di tengah kekhawatiran akan masa depan, kisah dan sabda Nabi meneguhkan bahwa berbagi adalah jalan lapang menuju kebahagiaan dan kecukupan, baik secara rohani maupun materiil. Rasulullah menanamkan nilai bahwa memberi dan berinfak bukan sekadar rutinitas, tapi bentuk cinta dan kepedulian pada sesama, sekaligus ladang pahala yang dijamin balasannya oleh Allah, Sang Maha Kuasa.